Latest Post

Air Mata Yang Hilang

Written By kripik kaliwungu on Rabu, 18 Juli 2012 | 01.05


Ingin hati meraih embun air mata ini
Bersimpuh dalam keheningan sujud
Menyatu dengan kerendahan hati
Menyelami cintaNya yang hakiki

Kuingin merasakan derai cintaNya
Walau hanya sesaat jantung ini berirama
Wala hanya sekejabmata
Agar aku bisa merasakan, bahwa aku mencinaiNya

Kuingin menangis sedu
Di atas hamparan sajadah biru
Memberikan sepenuh qalbuku
Agar aku bisa seperti mereka
(yang merasakan CintaNya)

Kemanakan harus kucari?
Air mata yang dulu ada di sini
Menemaniku dalam sepi
Membisikkan karuniaNya walau hanya dalam mimpi

Allah!
Jeritan hatiku tak terwakili
Mengadu asa yang telah kulewati
Bersama deburan noda-noda dosa ini

Allah
Berikan aku air mata

Dengan Cinta Aku Cemburu



Sendiriku menatap hampa paras fotomu
Selaksa ribuan panah mencabik batinku
Termenungku menatap senyummu
Serasa se-langit batu menghantam jerit hatiku

Hebat nian kau permainkan rasa
Hingga leburlah segalanya
Tinggalah sisa perih kenangan lama
Saat engkau tuangkan madu cinta
Saat itu…
Yah, saat itu…

Kini, senyummu mencercahku
Pelukan kekasihmu merampas segala indahku
Cepat kali kau hapus masa itu
Kala kau memberiku seribu janji cinta
Malam itu…
Yah, malam itu…

Tapi… tapi mengapa cinta ini tak jua sirna?
Setelah kau tinggalkan ribuan luka
Setelah kau rampas segalanya
Mengapa?
Cinta ini teramat membelengu cemburuku
Padamu
Aduhai…

Teruntukmu
Yang jauh tak terpandang
Masa itu kuharap hilang, bersama desiran debu yang berserakan

PadaMu Kutitipkan Cinta


Malu aku mengadu
Desah hati kian tak tentu
Saat wajah ini kerap termangu
Saat itu memerah kedua pipiku

PadaMu kutitikan segala rindu
Agar terobati senyum sipuku
Pasrahkan segenap jiwaku
Demi secuil hati yang tak jua bertemu

PadaMu kutitipkan segenap cinta
Agar kubebas dari belenggu derita
Karena kusadari hati kerap merana
Dan aku takut jika Engkau memberiku murka

Allah!
Biarlah padaMu segalanya bermuara
Atas cinta yang Engkau titipkan di hati hamba

Pahlawan Abadi


Dulu, aku tak mampu menulis
Tak tahu berhitung
Tak bisa mengeja
Tak mampu membaca

Kau kenalkan aku padanya
Kau bimbing aku tentangnya
Kau tuntun aku tuk mempelajarinya
Kau ilhami aku hingga aku bisa

Lelahmu tak mampu kutebus
Cerih-payahmu teramat tulus
Seperti petuahmu yang lurus
Walau kala itu aku masih ber-ingus

Perjuanganmu teramat mulia
Walau kerap engkau dihina
Namun langkahmu setegar Gajahmada
Pahlawan Indonesia yang dikenang sepanjang masa

Kini, semua menjadi nyata
Aku bisa menulis,
berhintung,
mengeja,
membaca

Duhai pahlawan abadiku!
Terima kasih atas bimbinganmu
Bahkan sampai aku tak lagi mengenalmu
Do’amu tetap sertai langkahku

Dengan Air Mata Aku Bertanya

Jika aku menangis
Kerap aku bertanya
Kenapa aku menangis?
Kepada siapa aku menangis?

Jika bahagiaku begitu haru
Saat indah itu membalut qalbu
Tak terasa benih girang berkelana
Jamah airmata ini takkan lupa

Namun, ketika sedihku merajut pilu
Dan waktu terasa bagai pukulan palu
Dalam derai hati tak tentu itu
Tak terasa airmata luka terus bersuara

Allah!
Mengapa bahagiaku teramat haru
Dan sedihku terasa pilu
Bersatu melawan suka dan luka
Tak sanggup jika airmataku tak berkata

Allah!
Kepada siapa aku bertanya?
Selain padaMu yang menitipkan airmata

Teruntuk
Sesal yang tak terkata.
KepadaMu, Allah… kupasrahkan segala airmata.

Bidadari Kecilku


Terbayang wajahmu slalu
Terbuai riuh tawamu
Teringat jerit bibir mungilmu
Tergiang polos senyummu
Terasa hangat lembut belaimu

Betapa hambar semua terasa
Ketika hadirmu di depan mata
Namun, terasa jauh
Jauh tak tersentuh
Jauh tak terpandang

Aduhai anakku!
Tak mampu mata ini terpejam
Walau sesaat jatung berdetak
Meski sedetik angin berhembus
Kala rindu menggugurkan semua mimpi

Aduhai bidadari kecilku!
Tak sanggup abi menahan
Selangit rindu memuncak gelombang
Laut airmata tak terasa berguguran
Abi rindu padamu

Anakku!
Maafkan abi yang tak sempurna di matamu

Bapak


Bapak!
Lelah ragamu tak terbalas
Hujan keringatmu tak berbatas
Lautan do’amu terhampar luas
Untukku, anakmu ini

Kau ajarkan aku tentang arti sabar dan ikhlas
Kau bimbing aku dengan kesederhaan diri
Kau sayangi aku dengan ketulusan hati
Kau cintai aku selaksa seorang raja

Bapak!
Kuingin kecup tanganmu
Agar engkau tahu, betapa tak ada artinya aku tanpamu
Kuingin sujud memohon ridhamu
Agar engkau tahu, betapa aku bangga menjadi putramu

Aku sadar, Bapak!
Aku sering acuh padamu
Aku sering abaikan titahmu
Aku sering berpaling wajah darimu

Bapak!
Izinkan aku menegadahkan hati
Demi lautan maafmu
Agar engkau ikhlas
Memiliki anak sepertiku

Teruntukmu
Bapak!
Kenangmu teramat dalam. Lautan sayangmu khan abadi sepanjang hayatku. Selamat tinggal, Bapak! Semoga di Surga nanti, kita bisa menyatu kembali, amin.

Berita

More on this category »

Artikel

More on this category »

Puisi

More on this category »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. KRIPIK - Creativity Education Magazine - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger